Studi Etnofarmasi Penggunaan Tumbuhan Berkhasiat Obat Untuk Penyakit Hipertensi Pada Masyarakat Di Desa Salutandung Kabupaten Tana Toraja
Keywords:
hipertensi, tumbuhan obat, terapi tradisional, etnofarmasiAbstract
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat dan menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Di masyarakat pedesaan, tumbuhan berkhasiat obat masih dimanfaatkan sebagai terapi pendamping. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan tumbuhan obat sebagai terapi hipertensi di Desa Salutandung. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan survei terhadap 52 responden penderita hipertensi. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan dianalisis secara deskriptif.
Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 45–54 tahun (30%), berjenis kelamin laki-laki (52%), berpendidikan dasar (54%), dan bekerja sebagai petani (57%). Jenis tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun salam (30%), diikuti sambiloto (19%) dan klorofil (15%). Bagian yang paling sering dimanfaatkan adalah daun (84%), dan seluruh responden mengolahnya dengan cara direbus (100%). Frekuensi konsumsi terbanyak adalah dua kali sehari (48%).
Disimpulkan bahwa pemanfaatan tumbuhan obat sebagai terapi hipertensi masih tinggi dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan agraris serta ketersediaan tanaman obat. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan aspek keamanan dan efektivitasnya.
